Selasa, 16 Juni 2015

Juni Minggu Kedua Baca-Baca di Taman Menteng

membaca di depan rumah kaca taman menteng

Ketemu lagi hari sabtu di minggu kedua di bulan Juni. Siang ini matahari bersinar menghangatkan bumi hmm sabtu siang akhirpekan ini jalanan nampak macet membuat telat untuk menghadiri papua adalah kita acara di parkir TIM (Taman Ismail Marjuki) menemani kawan-kawan sdtkt (sudut kota) yang membuka stand dan menyablon gratis dan kami menaruh beberapa zine (komazine) dan kaos  untuk di jual bersama kaos produksi sudut kota yeah.

Sore semakin ramai di parkiran TIM acara yang asyik apalagi ada acara bakar batu yang isinya pisang, ubi, singkong, sayuran, ayam hmm baunya khas sekali. Dengan sambutan dan music membuat kami sepertinya enggan beranjak tapi untuk ke taman menteng. Walau telat 20 menit anak-anak kecil yang biasa berkeliaran di taman setia menunggu dan akhirnya mereka bertanya ada buku yang kami janjikan minggu yang lalu, yap buku cerita anak-anak. Kata salah satu anak yang kebetulan mereka adalah kakak beradik berkata mereka sudah bisa membaca tak seperti sekitar kurang lebih dua tahun yang lalu adiknya belum bisa membaca kini sudah sekolah katanya.

Sepertinya hujan sudah mulai menjauh dari bulan Juni ini dan kemarau datang membuat jakarta semakin panas dan penuh debu membuat nafas sedikit sesak menghirup udara yang di tambah dengan polusi. Duduk di taman sedikit menghilangkan penat dari polusi.

Bocah-bocah berlari dan bercanda dan akhirnya membaca lagi halaman yang belum selesai, nampak sekelompok orang berfoto ria dan ada juga yang bergerombol mengamen untuk acara donasi hmm semoga berhasil. Dan di sebrang sana nampak sorotan lampu-lampu dengan kerumunan orang yang sibuk  bekerja menseting tempat tersebut, maklum lagi ada syuting mungkin untuk acara kejar tayang, lagian syuting pas malam minggu dimana pengunjung taman ramai. Di Ruang publik masih ada kecemasan tergusur dari taman karena prioritas kepada yang punya uang/penyewa taman ruang publik untuk kegiatan yang sebenarnya membuat publik tak nyaman.
baca di taman
baca buku di taman menteng

Ruang Publik yang berhasil merupakan tempat bersosial yang Baik, dimana banyak orang bertemu, berkumpul dalam kelompok, atau bercengkrama, menurut William White (1980 ). Kalau ruang publik tanpa interaksi social dan selalu saja di pakai kepentingan komersil itu bukan ruang publik.
 Dan waktu pun berjalan cepat sekali sudah pukul 22:00 taman menteng semakin ramai dan waktunya kami menutup baca-baca di taman.
baca-baca di taman pamflet juni

Salam bahagia ..mau pintar kenapa mesti bayar!

Uu_ ruangmenataplangit

Senin, 08 Juni 2015

kumpul di taman... KUDETA Juni

Waktu serasa berlari begitu cepat meninggalakan bulan Mei 2015 dan ketemu lagi di bulan Juni di taman menteng. Baca-baca di taman ketika malam datang menjemput untuk segera beranjak menuju menteng bersama pergi tenggelamnya matahari dan digantikan oleh bulan yang nampak bulat untuk menandai malam telah datang.

Sabtu 6 Juni 2015 jam 19:00 wib Taman Menteng serasa sangat janggal sepi sedikit sekali pengunjung yang melipir di taman ini. Ketika sampai 10 menit yang lalu nampak sekelompok muda-mudi yang berjalan menghampiri tukang kopi keliling dan sepasang kekasih yang nampaknya baru pertama kali berkunjung ke taman menteng ini. Melihat susan taman pasangan itu sedikit ragu karena suasana masih sepi di taman, terlintas terdengar lewat perbincangannya mereka kaget ketika memasuki taman ada polis line  yang berada di seberang jalan menuju gedung parkir taman menteng. Di dalam persepsi mereka taman mungkin tempat yang kurang nyaman dan rawan kriminalitas. Tapi setelah mereka duduk dibangku taman dan menikmati senyapnya malam minggu di taman dengan di hampiri penjual kopi keliling yang selalu siap menawarkan minuman hangat maupun dingin kring.. kring yang aus ess.. kopi..!


Lampu taman dan rumah kaca menjadikan taman menteng tempat yang gemerlap nampak dari kejauhan ini yang mengusir kunang-kunang menjauh dan mencari tempat yang gelap.  
Menatap langit malam di taman ….sambil berkumpul dan berbincang ringan di awal pertemuan di baca-baca di taman di bualan Juni 2015 sambil lesehan.

BIR (bincang ringan): lesehan merupakan sebuah kebudayaan asia tenggara. Budaya lesehan ini merujuk kepada masyarakat di asia identik dengan sebuah pola hidup sederhana. Makan di atas lantai tanpa adanya kursi. Merujuk pada sebuah pepatah “ berdiri sama tinggi, duduk sma rendah”, dengan lesehan tidak ada lagi sebuah perbedaan status profesi pekerjaan, social, ekonomi dll. Tetapi lesehan menujukkan kesetraan dan kebersamaan yang di dasrkan rasa persaudaraan.

Uu_ruangmenataplangit