Kamis, 17 Desember 2015

CARA KUNO UNTUK MEMPERHITUNGKAN WAKTU

STONEHENGE: CARA KUNO UNTUK MEMPERHITUNGKAN WAKTU




WALAUPUN sekarang sudah setengah hancur dalam perjalanan waktu sekitar 35 abad, Stonehenge tetap merupakan pemandangan yang mengesankan. Pilar-pilar batunya yang berukuran raksasa dan kasar menjulang tinggi di Dataran Salisbury. Stonhenge terdiri dari empat bangunan pokok. Bagian paling luar berupa lingkaran pilar-pilar dengan garis tengan 30 m, terdiri dari tiang-tiang batu pasir yang 5,5 m tingginya; tiang ini secara kasar berbentuk persegi dan ditumpangi balok-balok yang sama kasarnya. Di dalam lingkaran paling luar ini berdirilah lingkaran lain dari batu-batu yang lebih kecil dan lebir kasar bentukannya. Kemudian di bagian dalam kedua lingkaran tersebut terdapat dua susunan batu yang masing-masing berbentuk tapal kuda.



Kedua bangunan bagian dalam ini merupakan kuil yang sebenarnya. Untuk penghitungan waktu diperlukan tiga unsur lain lagi, yakni batu altar yang berpusat pada ujung terbuka kedua tapal kuda; sepasang tiang besar yang berdiri di bagian timur laut pada lingkaran pilar utama; dan lebih jauh dari sepasang tiang ini masih ada sebuah tiang lain, yang dikenal sebagai batu tumit.

.
Bagi para pembangun Stonehenge, pesta utama dan yang mungkin merupakan permulaan tahun adalah hari pertengahan musim panas (tanggal 24 Juni). Pada hari itu di kala fajar menyingsing, imam kepala dapat berdiri di tengah monumen pada batu altar, memandang melalui pilar-pilar dari kedua lingkaran besar dan kedua tiang besar di luar, serta melihat Matahari terbit tepat di atas batu tumit. Di tengah musim dingin, sekitar hari yang terpendek dalam tahun (tanggal 22 Desember), imam kepala tadi dapat melihat ke luar pada arah yang berlawanan di waktu senja dan melihat Matahari terbenam di antara kedua tiang besar paling luar.


Beberapa kuil megalitik lainnya, seperti halnya Stonehenge, agaknya digunakan untuk merayakan tahun yang berlangsung dari hari pertengahan musim panas (atau musim dingin) yang berikutnya. Dan masih ada kuil lain yang dibangun untuk tahun pertanian dan mulainya pada awal bulan Mei. Kedua macam kuil ini dibaktikan untuk memuja kehangatan dan kekuasaan Matahari yang memberikan kehidupan. Meski tidak dapat dibuktikan secara pasti, namun kedua kuil ini mungkin digunakan juga untuk mengikuti musim dengan pengamatan Matahari.


Betapa pun rumitnya, bangunan seperti Stonehenge bukanlah sebuah kalender; kegunaannya adalah membantu para pembangunnya untuk mengetahui kapan tugas-tugas keagamaan tertentu atau tugas-tugas pertanian harus dilaksanakan. Bangunan itu tidak membagi tahun menjadi satuan-satuan yang lebih kecil. Tak ada bukti bahwa pembangunnya tahu bahwa tahun syamsiah yang mereka rayakan memuat hari dalam jumlah tertentu. Pengetahuan semacam ini hampir pasti menuntut pengamatan dan pencatatan selama waktu yang cukup panjang. Dan tugas itu mengandaikan suatu masyarakat yang beberapa orang anggotanya tidak hanya belajar membuat catatan, melainkan yang memang melakukannya sebagai pekerjaan mereka.

.
Contoh jelas yang paling kuno tentang masyarakat seperti itu muncul kurang lebih 5.000 tahun yang lampau di tepi Sungai Tigris dan Efrat, di kalangan bangsa Sumeria. Mereka adalah bangsa yang menonjol bakatnya dan yang pertama kali mengembangkan kebudayaan kota dan tulisan. Untuk membuat kalender, bangsa Sumeria mempunyai ahli khusus yang terdiri dari para imam penulis. Mereka membuat catatan pada kepingan yang terbuat dari tanah liat basah dan mereka pun pasti sudah menjadi ahli dalam hal mencatat waktu.


Dalam tiap kota pemerintahan bangsa Sumeria, imam-imam bertanggung jawab memerintah negeri atas nam dewa-dewa dan wakil dewa di dunia, yaitu raja. Tugasnya tidaklah sederhana. Untuk membangun suatu peradaban dari paduan paya dan gurun di daerah Mesopotamia yang rendah, diperlukan jaringan tanggul dan parit untuk saluran pengering dan pengairan. Pengaturan pekerjaan ini serta kuil-kuil rumit yang dibangun dari batu bata tempat para imam memimpin upacara menuntut kerja orang banyak yang terkoordinasikan. Sekali dibangun, sistem saluran pengering dan pengairan itu harus tetap diperbaiki.

Yang sangat penting dari segi penghitungan waktu ialah bahwa ladang gandum dan jelai, bawang dan ketimun yang diari harus dibajak, taburi benih, dipelihara dan dipanen pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Hari-hari pasaran diadakan secara berkala di setiap kota kecil dan dan kerajaan. Dewa-dewa yang kemauan baiknya menentukan kemakmuran kerajaan harus ditentramkan dengan doa dan kurban pada hari-hari suci tertentu, dan perayaan ini harus dilakukan pada hari yang sama di setiap kota. Bagi masyarakat yang demikian kompleks, perhitungan musim secara kasar saja tidak memadai. 

Sayangnya pengetahuan kita mengenai kalender bangsa Sumeria sangat terbatas; pengetahuan ini terutama berasal dari dokumen peninggalan bangsa Babilonia yang menggantikan bangsa Sumeria sebagai penduduk Mesopotamia.[]


Referensi:

Hawkins, Gerald S, `Stonehenge Decoded` , 1965

Selasa, 01 Desember 2015

JANBAR (HUJAN BUBAR ...) II

#JANBAR 2 (R T H)

28 November 2015


Rupanya langit malam masih berselimut polusi sisa senja yang menepi pada kesenyapan pergantian waktu . JANBAR hujan bubar baca-baca di taman malam ini cuaca cerah . cuaca mendukung bro untuk mengelar baca-baca di taman .

Sejarahnya  taman menteng ini merupakan stadion yang bersejarah di Jakarta tempat markas  klub sepak bola di Jakarta, tetapi sekarang telah berubah fungsi menjadi taman kota yang telah diresmikan pada tahun 2007 yang telah berlalu oleh Gubernur Jakarta pada waktu itu Sutiyoso. 

Memang berat pilihannya  seperti buah simalakama kalau dimakan Ibu mati kalau tak dimakan Bapak yang mati. Pada waktu itu di satu sisi Jakarta membutuhkan taman kota yang berfungsi sebagai faktor penyeimbang berupa daerah terbuka hijau melalui pohon-pohon yang hidup di dalamnya, akan tetapi Jakarta juga butuh sarana lapangan sepak bola, hampir bisa dipastikan bagi kita yang ingin bermain sepak bola lapangan akan kesulitan menemukan lapangan di Jakarta. 

Ruang terbuka hijau di Jakarta merupaka oase bro. Ruang terbuka hijau salah satunya taman yang berfungsi secara sosial dan  ekologis. 

RTH Untuk fungsi sosial, ruang terbuka hijau perlu memiliki hirarki: untuk lingkungan ketetanggaan, di tengah-tengah lingkungan perumahan; untuk lingkungan lebih luas di antara beberapa lingkungan perumahan; untuk lingkungan lebih luas di antara berbagai fungsi perkotaan seperti perkantoran, sekolah, dan lain-lain; dan untuk keseluruhan kota tempat orang merayakan dan merasakan diri sebagai anggota suatu masyarakat perkotaan.

Distribusi ruang terbuka hijau juga penting memperhatikan keperluan untuk keselamatan dari bencana. Ketika gempa, orang perlu keluar dan menjauh dari bangunan-bangunan agar tidak tertimpa serpihan kaca atau bagian bangunan lain yang jatuh. Untuk soal ini sebenarnya agak mengerikan membayangkan Jalan Thamrin-Sudirman dan Rasuna Said di Jakarta, yang sama sekali tidak memiliki ruang terbuka yang cukup luas dan pada jarak aman dari kemungkinan terkena jatuhnya serpihan dari bangunan-bangunan tinggi di sana. Melarikan diri ke ruang jalan adalah suatu tindakan yang berbahaya, karena dalam keadaan panik gempa misalnya, maka lalu lintas pun akan mengalami kekacauan yang berbahaya.

Terkait dengan lokasi , ada keharusan kemudahan mencapai ruang terbuka hijau. Untuk di lingkungan perumahan, ia harus dapat dengan mudah, nyaman dan aman dicapai dengan berjalan kaki, mungkin juga dengan sepatu roda, bersepeda dan kereta bayi. Misalnya dalam lima menit. Untuk yang antar-lingkungan perumahan dan fungsi lain, alangkah baik bila dapat dicapai dengan jalan kaki juga dan/atau sepeda, misalnya dalam sepuluh menit. Untuk yang lain, harus ada kemudahan pencapaian dengan angkutan umum, dan tegas bukan untuk kendaraan pribadi. Kehadiran kendaraan pribadi akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang bertentangan dengan tujuan sosial dan ekologis dari ruang terbuka hijau itu sendiri. Dapat juga ruang terbuka hijau di antaranya berbagai lingkungan permukiman/rumah dan lainnya (misalnya perkantoran) sekaligus merangkap sebagai titik simpul angkutan umum.

Selanjutnya rancangan ruang terbuka hijau itu—yaitu jenis tanamannya, fasilitas yang tersedia, bahan dan komposisi antara perkerasan dan rerumputan hijau, dan lain-lain—disesuaikan dengan kinerja sosial dan lokasinya tersebut.

Sedangkan fungsi ekologis seharusnya mewarnai seluruh ruang terbuka hijau di semua kota kita, karena pada dasarnya semua kota kita, bukan hanya Jakarta, sedang menempuh jalan yang menghancurkan ekologi dan karena itu perlu dibalikkan arahnya, antara lain dengan ruang terbuka hijau. (Ada banyak hal lain dan lebih mendasar yang harus dilakukan juga).

Kinerja ekologis ini adalah: penyerapan air, penyerapan polusi udara, dan mungkin sekali pengolahan sampah. Untuk menyerap air, ruang terbuka hijau harus digemburkan, atau dan mengandung pasir yang cukup dibandingkan dengan lempung. Kalau hal itu tidak mungkin, maka perlu ada sumur, kolam atau danau buatan (tergantung luasnya) yang di dasarnya disambungkan dengan pipa-pipa ke lapisan pasir yang menyerap air. Komposisi tanaman besar dan kecil perlu memperhitungkan keperluan tersebut juga. Pohon besar dengan akar yang banyak akan membantu penggemburan tanah. Untuk menyerap polusi udara pun, komposisi tanaman dapat mempengaruhi kinerjanya. Khusus untuk menampung (sementara) dan menyerapkan air (kemudian) di kota-kota yang sangat rawan banjir seperti Jakarta, satu gagasan perlu dipertimbangkan: manfaatkan semua ruang yang tidak fungsional sejauh ini, misalnya sebagian kolong jalan layang yang Nampak kosong.

Dijahit oleh UU ruangmenataplangit
Refrensi: Komazine.blogspot.com - bacaditaman.blogspot.com-mkusumawijaya.wordpress.com